Selamat Jalan Isao Takahata, Co-Founder Studio Ghibli dan Sutradara Grave of the Fireflies - Nanarow.com
850
post-template-default,single,single-post,postid-850,single-format-standard,qode-quick-links-1.0,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-11.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Selamat Jalan Isao Takahata, Co-Founder Studio Ghibli dan Sutradara Grave of the Fireflies

Pernah nonton film Grave of the Fireflies atau The Tale of Princess Kaguya? Dua film animasi Ghibli ini emang memorable banget. Visual apik, karakter unik, dibalut dengan cerita humanis membuat film-film anime ini menjadi jajaran film kebanggaan Ghibli.

Sayang di balik kesuksesan filmnya, kabar tidak menyenangkan justru datang dari sang kreator. Isao Takahata, sang sutradara dikabarkan telah tutup usia pada Kamis (5/4/2018) lalu di sebuah rumah sakit di Tokyo, Jepang.

Takahata mengembuskan nafas terakhirnya pada usia 82 tahun. Belum diketahui penyebab pastinya, yang jelas kondisi kesehatannya dikabarkan telah menurun sejak musim panas tahun lalu.

Buat kamu yang belum tahu, Isao Takahata adalah salah satu tokoh penting di balik berdirinya Studio Ghibli. Bersama dengan Hayao Miyazaki, Toshio Suzuki, dan Yasuyoshi Tokuma, Takahata mendirikan Studio Ghibli pada tahun 1985 yang hingga kini menjadi salah satu studio film anime terbesar di Jepang.

Karya Takahata yang paling fenomenal adalah Grave of the Fireflies (1988) yang sekaligus menjadi debut penyutradaraannya bersama Ghibli.

Berkarir Sejak 1960-an

Isao Takahata lahir di Ise, Jepang pada 29 Oktober 1935 dari tujuh bersaudara. Pada tahun 1943 keluarganya pindah ke Okayama di usia 8 tahun. Lulus SMA, Takahata melanjutkan study ke Universitas Tokyo jurusan Sastra Prancis.

Saat masih duduk di bangku kuliah, ia terpukau melihat film animasi garapan sineas Perancis, Paul Grimault yang berjudul Le Roi et l’Oiseau (The King and the Mockingbird). Konon film yang rilis di Jepang pada tahun 1955 itu menjadi titik balik karirnya yang membuatnya fokus mendalami animasi.

Selepas kuliah Takahata bergabung di Toei Animation pada usia 24 tahun. Toei adalah sebuah perusahaan yang memproduksi film-film animasi sekelas Disney di Jepang.

Perusahaan inilah yang memertemukannya dengan Hayao Miyazaki yang juga merupakan pendiri Studio Ghibli. Siapa sangka, hingga akhir hayatnya Takahata dan Miyazaki telah menjalin persahabatan lebih dari 5 dekade.

Dilansir dari The Guardian, debut penyutradaan Takahata berjudul The Litle Norse Prince (1968). Sayang film anime yang berkisah tentang perjuangan anak laki-laki yang memertahankan desanya dari dukun jahat itu gagal di pasaran.

Toei dengan terpaksa menarik dari peredaran hanya beberapa minggu paska filmnya tayang. Imbasnya Takahata pun dimutasi dan dipindahkan ke bagian Televisi.

Sempat frustasi, Takahata lalu move on dengan bergabung dalam produksi serial animasi televisi yang diangkat dari manga populer karya Monkey Punch. Pada tahun 1972 ia lalu menyutradarai sebuah film pendek berjudul Panda! Go Panda! dan sekuel filmnya di tahun berikutnya.

Berdirinya Studio Ghibli

Setelah wara-wiri, Takahata akhirnya kembali berkolaborasi dengan Miyazaki dalam beberapa project film, salah satunya Nausicaä of the Valley of the Wind (1984). Kesuksesan besar film ini menginspirasi keduanya mendirikan rumah produksi bersama yang mereka sebut sebagai Studio Ghibli.

Selama di Ghibli, Takahata tercatat telah menyutradarai 5 film. Debutnya dimulai dengan membesut Grave of the Fireflies. Film anime yang telah sukses mendunia ini mengangkat sisi gelap Perang Dunia II dari sudut pandang dua orang kakak-beradik yang masih kanak-kanak.

Plot yang disajikan cukup depresif dan mengundang simpati. Kritikus film Hollywood, Roger Ebert bahkan mengatakan film ini sebagai salah satu film perang terbaik yang pernah ia saksikan. Takahata sendiri mengaku bahwa film ini terinspirasi dari pengalaman pribadinya.

Karya Takahata lainnya yang juga menarik perhatian adalah The Tale of the Princess Kaguya (2013). Film ini berhasil masuk nominasi Academy Awards ke-87 untuk kategori Best Animated Feature. Visualnya yang artistik ala lukisan klasik Jepang menjadi salah satu keunikan filmnya.

Dilansir dari Variety, setelah The Tale of the Princess Kaguya yang menjadi film Ghibli kelima besutannya, Takahata mengatakan masih punya beberapa ide yang belum sempat terealisasi.

Namun apa mau dikata, takdir berkata lain. Sebelum sempat menggarap proyeknya, Takahata sudah keburu menutup usia. Well, pada akhirnya The Tale of the Princess Kaguya rupanya menjadi karya terakhirnya.

Meski begitu karya-karya Takahata akan tetap terkenang sepanjang masa. Tangan dinginnya telah memberikan kontribusi besar bagi industri anime tak hanya di Jepang, namun di seluruh dunia.

Selamat jalan Isao Takahata..

 

No Comments

Post A Comment